Mbah Maridjan Lebih Memilih ke Masjid

SURYA/DYAN REKOHADI

Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi saat berada di rumahnya di kaki Gunung Merapi tepatnya di Dusun Kinah Rejo Desa Umbul Harjo Kecamatan Cangkringan Sleman Yogyakarta.

KOMPAS.com – Pukul 17.30, terdengar suara gemuruh panjang dari arah lereng selatan Merapi, Mbah Maridjan undur diri, meninggalkan kami. Sebelum itu, dua rekan wartawan yang tadi bersama kami, meninggalkan rumah.

Widya, wartawan Kompas, memilih pesan mi goreng di warung sebelah rumah Mbah Maridjan. “Itu batuk lagi, aku tak ndelok tipi sik yo,” kata Mbah Maridjan sesaat kemudian dengan logat Jawanya yang medok.

Beliau kemudian masuk ke rumah dan lama enggak keluar. Kami melanjutkan obrolan di teras. Di tengah obrolan, rombongan tim SAR menggunakan sebuah mobil dan satu motor tiba, dan masuk ke halaman.

Di antara mereka ada seseorang, namanya Agus, katanya mantan Ketua DPRD mana, saya lupa. Agus itu langsung mengucapkan salam, dan masuk rumah menemui Mbah Maridjan. Belakangan saya dapat informasi Agus itu lengkapnya Agus Widodo, kerabat Mbah Maridjan.

Saya sempat lihat mobil jemputan Widya datang, tapi masih terlihat berhenti, tidak langsung pulang. Ketika Agus berada di dalam, kabarnya berhasil membujuk Mbah Maridjan. Di saat bersamaan datang rombongan dari PLN menggunakan empat mobil, salah satunya jenis Avanza yang ada tulisan PLN.

Rombongan itu juga menunggu di teras rumah sambil berdiri ikut mengobrol. Tak lama setelah itu seorang putri Mbah Maridjan terlihat berkemas-kemas, dan membawa tas menuju ke mobil tim SAR. Saat bersamaan juga Mbah Maridjan keluar, dan informasinya akan ikut ke mobil menyusul putrinya.

Beberapa meter sebelum mencapai pintu mobil, rombongan PLN langsung mendatangi Mbah Maradjan, berebut salaman. Momen itu tak disia-siakan dan didokumentasikan oleh salah seorang anggota rombongan menggunakan foto.

Mbah Maridjan tampak kaget, dan mengira dia difoto wartawan. Sementara sejak awal Mbah Maridjan wanti-wanti untuk tidak diambil gambarnya. Mbah Maridjan pun urung ke mobil dan pergi ke masjid yang terletak sekitar 100 meteran dari halaman untuk salat Maghrib. (Musyafik/Setya Krisna Sumargo/Bramasto Adhy)

sumber: Kompas.com

Posted on Oktober 27, 2010, in Anyar and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • banner

    Creative Commons License
    This work is in the Public Domain. free counters
  • %d blogger menyukai ini: